Rabu, 07 Maret 2018

Pendidikan Menurut Orang Tua


Orang tua merupakan orang yang sangat berjasa bagi kita yang tak akan pernah bisa kita membalas jasa beliau. Semua dari kita pasti mempunyai orang tua, tak ada satu manusia pun yang terlahir kedunia ini tanpa adanya orang tua walau bisa jadi salah satunnya telah mendahului  sebelum ia lahir, terkecuali putra dari Maryam yaitu Nabi Isa As dan Nabi Adam As berserta pasangannya Siti Hawa.

Orang tua pasti sangat mengharapkan kebahagiannya untuk anak-anaknya, beliau akan berjuang demi keperluan dan memenuhi keinginan anaknya tanpa menceritakan bagaimana susahnya beliau memperjuangkan itu. Salah satu yang beliau perjaungkan dimasa sekarang ini adalah pendidikan untuk anak-anaknya.

Orang tua akan melakukan apapun supaya anaknya bisa masuk sekolah, mulai ia dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan si anak duduk di bangku Kuliah, Baik itu Strata 1 (S1) bahkan ada juga yang sampai menyekolahkan juga samapai ke S3. Apa yang diharapkan oleh orang tua menyekolahkan anaknya ???? yang beliau harapkan adalah agar anaknya bisa merasakan nikmatnya menjadi orang berilmu yang akan menjadi seorang pemimpin dan dipentingkn di lingkugna sosislnya, yang bisa jadi ia pun SD pun tak tamat dulu. Ia tak ingin anak-anaknya merasakan apa yang ia rasakan, ia berusaha agar anak-anaknya lebih baik dari ia dahulu.

Sebahagian orang tua pun beranggapan hanya dengan sekolahlah seorang anak bisa meraih kesuksesan dan gelap akan sukses di segi yang lain. Orang tua akan sangat bangga ketika melihat atau menghadiri di saat si anak memperoleh prestasi, pembagian hadiah di suatu perlombaan apalgi disilingkan dengan namanya, dan juga pada upacara wisuda anaknya dan ia akan memamerkan kepada tetangga-tetangganya jika anaknya sudah menjadi sarjana dan sudah diwisudakan, memperoleh prestasi misalkan mendapat juara 1. Betapa bahagianya orang tua dikala itu.

Namun apa bisa dikata jika seorang anak yang tak mampu belajar disekolah yg bisa jadi ia keluar atau dikeluarkan oleh pihak sekolah pasti akan berat untuk orangtuanya. Perlu kita ketahui bersama dan perlu untuk kita resapi bahwa setiap anak mempunya kelebihan dan kekurangan tersendiri, tak ada satu anak pun yang mempunya kesamaan 100% dan mempunya tingkat Intelegensinya masing-masing. Maka dari itu penulis menyarankan jangan pernah menyamakan anak orang lain dengan anak kita, karena ia akan merasa tak diperhatikan dan ia pasti akan merasa dikucilkan oleh kita. Maka dukunglah dia selalu disaat iya diatas bahkan disaat iya sedang jatuh dari harapannya atau keinginannya, karena disaat itu dukungan kita sangat mempengaruhi akan kondisi mentalnya.

Kecerdasan seorang anak itu bisa kita bagi menjadi 3 bagian, yaitu afektif (sifat), kognitif (Mental) dan psikomotor (skill). Dari ketiga jenis tersebut anak pasti akan memiliki salah satunya.

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.  Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.

Nah, setelah kita mengetahui hal tersebut penulis mengharapkan untuk orang tua atau mamud (mama muda) ckckck serta bagi yang bakal calon orang tua agar selalu memerhatikan dan mencaritahu anaknya lebih tergolong ke mana kognitif, afektif atau psikomotor. Setelah mengetahui maka barulah kita mendidik dan memberi pendidikan sesuai dengan kemampuan dasarnya dan juga kita juga harus mengetahui bagaimana cara mendidik anak yang dominan afektif, kognitif dan psikomotor. Teruslah berada didekatnya baik itu dalam kondisi bahagia maupun sedang menderita teruslah berada didekatnya.

Oke rakan semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan dan lainnya. Mohon kritik dan sarannya di kolom komentar J wassalam


kunjungi juga Tulisan saya mengenai Makna Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar